Transformasi Kelas Kimia: Mengubah Catatan Menjadi Infografis & Video dengan NotebookLM
Oleh Rani Nawang Sari


Pernahkah merasa kesulitan saat menjelaskan konsep kimia yang kompleks—seperti tata nama senyawa karbon atau sifat koligatif larutan—agar terlihat menarik bagi siswa? Sebagai guru Kimia, saya sering berpikir: “Bagaimana cara membuat materi ini tidak hanya dipahami, tapi juga berkesan secara visual?”

Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta dengan NotebookLM. Alat berbasis AI dari Google ini benar-benar menjadi "asisten pribadi" saya dalam menyusun bahan ajar yang interaktif.


Mengapa NotebookLM?


Bagi saya, NotebookLM bukan sekadar AI biasa. Ia mampu memahami sumber data yang kita unggah (baik itu PDF buku teks, catatan pribadi, maupun artikel ilmiah) dan mengubahnya menjadi ringkasan yang sangat terstruktur.

Dari ringkasan cerdas inilah, saya melangkah lebih jauh untuk membuat:
  1. Infografis Edukatif: Mengambil poin-poin kunci dari NotebookLM untuk disusun menjadi visualisasi yang cantik dalam infografis.
  2. Video Pembelajaran: Memanfaatkan fitur Audio Overview (Deep Dive) untuk mendapatkan narasi diskusi yang natural dengan gaya bahasa kekinian ala Gen Z, lalu saya padukan dengan elemen visual agar materi lebih hidup.
Langkah Sederhana yang Saya Lakukan:
  • Input Sumber Terpercaya: Saya mengunggah modul ajar atau materi Kimia pilihan yang sebelumnya saya buat dengan Gemini ke NotebookLM.
  • Eksplorasi Ide: Saya bertanya pada AI untuk mencari analogi yang mudah dipahami siswa atau poin-poin yang sering menjadi kesulitan di kelas 12
  • Produksi Visual: Data yang sudah rapi tersebut saya bawa ke platform desain untuk dijadikan konten yang siap dibagikan ke siswa atau diunggah ke media sosial.
Hasilnya di kelas?

Siswa cenderung lebih cepat menangkap konsep saat melihat infografis yang ringkas dibandingkan membaca puluhan halaman teks. Selain itu, video pembelajaran berbasis AI ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda—seperti mendengarkan podcast edukasi yang seru!

Mari kita terus berinovasi. Teknologi bukan untuk menggantikan peran kita sebagai guru, melainkan memperkuat pesan dan kasih sayang yang kita salurkan melalui ilmu pengetahuan.



60 Detik Jadi 100 Sertifikat: Rahasia Efisiensi Guru di Era Digital
Oleh Rani Nawang Sari

Pernahkah Anda merasa waktu produktif Anda habis hanya untuk urusan administrasi? Sebagai pendidik, kita semua pasti pernah merasakannya. Salah satu "momok" yang paling sering menyita waktu adalah saat harus membuat sertifikat untuk puluhan, bahkan ratusan siswa atau peserta pelatihan.

Membayangkan harus menyalin nama satu per satu dari daftar hadir ke desain sertifikat, lalu memeriksa typo (salah ketik) berulang kali... rasanya seperti mimpi buruk!

Namun, dalam webinar Japanesia edisi Maret yang baru saja saya bawakan, saya membagikan sebuah rahasia kecil yang saya sebut sebagai "The 60-Second Certificate". Penasaran bagaimana caranya? Mari kita bedah rahasianya.

buat tema biru seperti slide lainnya

Power Duo: Canva & Google Sheets

Rahasia dari efisiensi ini terletak pada kolaborasi dua aplikasi hebat: Google Sheets dan Canva. Jika Google Sheets adalah "otak" yang menyimpan data, maka Canva adalah "wajah" yang memberikan keindahan visual.

Dengan fitur Bulk Create di Canva, kita tidak perlu lagi bekerja secara manual. Kita cukup menghubungkan data dari spreadsheet langsung ke desain sertifikat.
4 Langkah Ajaib Menuju Efisiensi

Berikut adalah ringkasan langkah-langkah yang saya demonstrasikan dalam webinar kemarin:
  1. Kumpulkan Data Secara Otomatis: Gunakan Google Forms untuk mengumpulkan nama peserta. Biarkan mereka yang mengetik namanya sendiri agar risiko salah ketik berkurang drastis. Unduh hasilnya dalam format CSV.
  2. Siapkan Master Template: Pilih satu desain sertifikat di Canva yang paling mewakili acara Anda. Berikan ruang kosong yang cukup luas untuk kolom nama.
  3. Hubungkan Data (The Mapping): Unggah file CSV Anda ke menu Bulk Create di Canva. Klik kanan pada elemen nama, lalu pilih Connect Data.
  4. Simsalabim! Klik Generate: Dalam hitungan detik, Canva akan membuatkan puluhan halaman sertifikat dengan nama yang berbeda-beda secara otomatis.
Teknologi adalah Alat, Guru adalah Jantungnya

Efisiensi administrasi bukanlah tentang malas bekerja, melainkan tentang mengalokasikan energi kita ke tempat yang tepat. Dengan menghemat waktu di urusan teknis seperti pembuatan sertifikat, kita memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi, memotivasi, dan menginspirasi siswa-siswi kita.

"Technology is the tool, but the teacher is the heart."

Mari kita terus berinovasi untuk pendidikan yang lebih baik!

Apakah Anda sudah mencoba fitur Bulk Create di Canva? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar ya!

Kolaborasi Lintas Daerah: Menjelajahi Masa Depan Pendidikan di Program Sertifikasi Gemini Certified Educator
Oleh Rani Nawang Sari

Dunia pendidikan sedang berada di titik balik yang sangat menarik. Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan rekan strategis bagi kita, para guru, untuk menciptakan pembelajaran yang jauh lebih efisien dan kreatif.

ELP (Google Ed Leadership Program) adalah komunitas kolaboratif yang didukung oleh Google For Education untuk mendukung pemimpin pendidikan, admin IT dan pendidik. Program ini bertujuan mempercepat inovasi, berbagi praktik terbaik, dan meningkatkan dampak teknolohi dalam pengajaran melalui dukungan komunitas dan pertemuan rutin.

Baru-baru ini, saya sebagai ELP Fasilitator Ogan Komering Ulu merasa sangat bangga bisa terlibat dalam sebuah inisiatif luar biasa: Program Sertifikasi Google Gemini Certified Educator


Kekuatan Kolaborasi Lintas Daerah

Acara ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah hasil kolaborasi spesial dari para Fasilitator Google ELP (Ed Leadership Program) lintas daerah di Sumatera Selatan, meliputi: OKU Lubuk Linggau, Muratara, Musi Rawas, OKI, dan Ogan Ilir.

Didampingi langsung oleh Bapak Kristiyanto dari Digital Transformation, kami bersama-sama mengeksplorasi bagaimana ekosistem Google Gemini dapat membantu tugas keseharian pendidik. Sesi yang dibuka pada 13 Februari 2026 lalu ini membuktikan bahwa jarak geografis bukan penghalang untuk saling berbagi ilmu. 

Kegiatan ini dilaksanakan dua hari tanggal 13 - 14 Februari 2026 dengan tujuan para peserta memahami bagaimana Gemini dan NotebookLM bisa menjadi mitra kolaboratif dalam memberikan ide, gagasan juga menjadikan pekerjaan kita lebih efektif dan efisien. 

Hal luar biasa dari kegiatan ini adalah selain guru peserta juga berasal dari Dosen dan Widyaiswara BGTK. Sehingga kegiatan ini menjadi luar biasa semarak dengan diskusi dan sharing pengalaman. Pada setelah mengikuti sesi materi Gemini dan NotebookLM selama dua hari para peserta melakukan ujian sertifikasi Gemini secara mandiri. Hasilnya luar biasa, para peserta melaporkan kelulusan mereka di grup. Hal ini membuat saya bangga.

Mari Terus Bertransformasi

Sertifikat Gemini Certified Educator yang kami kejar dalam program ini adalah simbol komitmen kita untuk terus relevan di era digital.

Bagi rekan-rekan yang kemarin belum sempat bergabung, jangan berkecil hati. Mari terus pantau update di blog ini dan komunitas kita. Teknologi ada untuk memudahkan kita, bukan untuk menggantikan esensi kita sebagai pendidik yang penuh empati.

Sampai jumpa di inovasi berikutnya!


From East OKU for Indonesia: Building an Innovation Mindset Amidst Signal Limitations


The digitization of education is not just about how sophisticated our devices are or how fast our school's internet connection is. Vice principal of Curriculum at SMAN 2 Ogan Komering Ulu, I realize that the biggest challenge in digital transformation often boils down to one thing: mindset.





Recently, I had the honor of accompanying my wonderful fellow teachers from the Google Reference School Candidate (KSRG) in East OKU Regency in the Google Certified Educators Level-1 training. There, I saw a reflection of the same challenges we face in OKU—hesitation and intimidation towards technology due to infrastructure constraints. East OKU is known as a major food basket. This region was formed from the division of Ogan Komering Ulu Regency and is the center of the Komering tribe's civilization, with its leading sectors being rice, rubber, and palm oil farming. This has made its residents prosperous. However, internet connectivity is not evenly distributed throughout the region. There are several areas that experience limited internet connectivity.

During the session, I shared my real-life experience of how we at SMAN 2 OKU kept the digital ecosystem alive despite frequent internet signal interruptions. The strategies I implemented focused on:
  1. Confidence Before Tools: Before getting into the technical aspects, teachers must believe that technology is a bridge for students, not an additional burden for educators.
  2. Adaptive Learning: Optimizing Google Workspace features in low-bandwidth conditions so that collaborative learning does not stop when the connection is lost.

Some teachers initially felt unsure about their ability to complete this activity. In addition to internet connectivity issues, their lack of technological skills made them feel inferior. But one thing that made me proud was their unyielding spirit to keep learning, which motivated them to keep trying. The discussion sessions were interesting, as everyone shared their experiences and solutions. Their worries disappeared during the discussion sessions. It was as if the burden they had been carrying was lifted.

After these face-to-face sessions ended, online sessions were held to monitor the extent to which technology had been implemented in the classroom. What new challenges were encountered and how were innovations made to overcome them? The results were extraordinary. Teachers in East OKU began to shift from saying, “It's impossible to do here,” to “How can we make it work?” This enthusiasm is evident in the increasing number of teachers who are now eager to pursue Google Certified Educator Level 1 certification.

Looking back, I learned that innovation moves faster when we build a culture of peer mentorship. This is the mission I want to take further through the Google Certified Innovator program.
We must ensure that no student or teacher feels “left behind” simply because of their geographical location. Let's continue to innovate and go beyond signal limits!

 

Transformasi Pendidikan di Universitas Baturaja: Membekali Dosen dan Tendik dengan Keahlian AI melalui Gemini Academy

Dunia pendidikan tinggi kini memasuki babak baru dengan hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI). Sebagai bagian dari komitmen untuk terus mendorong literasi digital, saya merasa sangat terhormat dapat berkontribusi dalam kegiatan "Program Pelatihan dan Sertifikasi Gemini Certified Educators untuk Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas Baturaja".



Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Unbara pada 29 Januari 2026 ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan langkah nyata Universitas Baturaja dalam mengadopsi teknologi untuk memperkuat kualitas pengajaran dan efisiensi kerja di lingkungan kampus.

Dalam sesi ini, saya tidak sendirian. Saya berkesempatan berbagi panggung dan berkolaborasi dengan para pakar hebat di bidangnya yaitu Tresna Agustian Suryana (Google Project Specialist), Hizkia Sasangka Jati (Google Certified Trainer) dan saya Rani Nawang Sari (Google Certified Trainer)

Satu hal menarik yang saya tekankan dalam sesi saya adalah "Praktik Baik Prompting". Di hadapan para Dosen dan Tendik Unbara, kami membedah bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan AI. Salah satunya dengan membuat prompt yang tepat agar hasil yang diberikan sesuai harapan.

AI seperti Gemini bukan hanya alat untuk mencari jawaban, tetapi mitra kolaboratif. Dengan prompting (perintah) yang tepat, dosen dapat:

  • Menyusun modul ajar yang lebih adaptif dan interaktif.

  • Mengefisiensikan tugas-tugas administratif akademik.

  • Membantu riset dengan pemetaan literatur yang lebih cerdas.

Suasana di Auditorium Unbara sangat semarak. Para peserta terlihat sangat antusias mencoba langsung fitur-fitur Gemini Academy di perangkat mereka masing-masing. Diskusi mengalir hangat saat kami membahas bagaimana AI dapat diintegrasikan tanpa menghilangkan esensi integritas akademik.

Bagi saya pribadi, melihat semangat transformasi digital di Unbara memberikan inspirasi tersendiri. Ini membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi di daerah kita siap bersaing di kancah global dengan memanfaatkan teknologi masa depan.

Transformasi bukan tentang menggantikan manusia dengan mesin, melainkan memberdayakan manusia dengan alat yang tepat. Terima kasih kepada Universitas Baturaja atas kepercayaan dan keramahannya. Mari kita terus belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama AI!

Sampai jumpa di inovasi pendidikan selanjutnya!

Mendengar Suara dari Ujung OKU Selatan: Mengapa Literasi Digital adalah Hak, Bukan Kemewahan
Oleh: Rani Nawang Sari


Saya merasa sangat bahagia bisa kembali berbagi di sini. Kali ini, saya ingin mengajak rekan-rekan menyelami sebuah konsep yang sedang hangat dalam dunia pendidikan: Implementasi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam Pembelajaran di Kelas.




Sebagai pendidik, kita harus memahami bahwa Deep Learning secara kurikulum menuntut murid untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mampu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Di era ini, pembelajaran mendalam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Mengapa? Karena teknologi mampu menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, personal, dan kontekstual. Teknologi adalah katalisator yang mengubah metode tradisional menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

Kolaborasi Tanpa Batas dengan Google Workspace
Salah satu alat yang paling mumpuni untuk mendukung Deep Learning adalah Google Workspace for Education. Dengan dukungan akun belajar.id yang sudah tersedia bagi guru dan murid, kolaborasi dalam domain yang sama menjadi sangat mudah—baik itu antar-murid, antar-guru, maupun interaksi guru-murid.

Namun, teori seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan.

Ujian Nyata: Diesel, Mati Listrik, dan Semangat yang Tak Padam
Kejadian menarik terjadi saat saya mendemonstrasikan kolaborasi menggunakan Google Docs di SMAN 1 Ranau Selatan, Kabupaten OKU Selatan. Di luar prediksi, listrik padam. Mesin diesel segera dinyalakan sebagai energi alternatif, namun tantangan berikutnya muncul: kualitas sinyal internet merosot tajam.

Tanpa membuang waktu, saya memutuskan untuk beralih menggunakan fitur Google Docs secara Offline. Saat diskusi mengenai fitur offline sedang berlangsung, koneksi internet benar-benar hilang total. Saya baru menyadari bahwa di daerah ini, jika listrik padam lebih dari satu jam, sinyal internet akan ikut menghilang. Bahkan, masyarakat setempat sudah terbiasa menghadapi mati listrik hingga berhari-hari.

Modifikasi sebagai Kunci Inovasi

Melihat kondisi ini, penerapan teknologi dalam Deep Learning yang seharusnya berjalan online dan interaktif tidak bisa dilakukan tanpa modifikasi. Saya melihat betapa hebatnya para guru di sana melakukan berbagai siasat agar pembelajaran tetap berjalan di tengah musim mati listrik.

Pengalaman di OKU Selatan ini mempertegas keyakinan saya: Literasi digital bagi murid adalah hak, bukan barang mewah yang ikut padam saat listrik mati. Tugas kita sebagai pemimpin pembelajaran adalah memastikan bahwa setiap murid, di ujung daerah manapun, tetap mendapatkan haknya untuk mengakses masa depan melalui teknologi—apa pun tantangannya.

Sinyal Putus, Ide Terus: Trik Kolaborasi Google Docs Saat Internet Tidak Bersahabat
Oleh: Rani Nawang Sari


Pernahkah Ibu dan Bapak Guru sedang asyik mendampingi siswa berkolaborasi di Google Docs, lalu tiba-tiba indikator sinyal di pojok layar hilang? Di daerah saya mati lampu atau gangguan sinyal adalah makanan sehari-hari yang sering kali memutus momentum belajar siswa.



Namun, keterbatasan infrastruktur bukan berarti kolaborasi digital harus berhenti. Sebagai pendidik, kita harus selangkah lebih maju dari kendala teknis. Berikut adalah panduan praktis untuk memastikan ide siswa tetap mengalir meskipun internet sedang "merajuk".

1. Persiapan: Aktifkan Mode Offline Sekarang!

Langkah paling krusial adalah persiapan saat internet masih stabil. Jangan menunggu sinyal hilang untuk melakukan ini:
  • Buka Google Drive: Klik ikon gerigi (Setelan) di pojok kanan atas.
  • Centang Kotak Offline: Cari opsi "Offline" dan centang bagian "Buat, buka, dan edit file Google Dokumen, Spreadsheet, dan Slide terbaru di perangkat ini saat offline".
  • Pastikan Ekstensi Terpasang: Pastikan Google Chrome Mbak sudah memiliki ekstensi "Google Docs Offline".

2. Strategi Kolaborasi Kelompok Saat Offline

Bagaimana jika sedang kerja kelompok lalu sinyal putus? Inilah triknya agar momentum tidak hilang:
  • Simpan Secara Lokal Otomatis: Saat fitur offline aktif, siswa bisa terus mengetik di Google Docs mereka masing-masing meskipun ikon awan menunjukkan tanda silang.
  • Sinkronisasi Otomatis: Ingatkan siswa untuk tidak menutup tab browser mereka. Begitu sinyal kembali atau diesel sekolah menyala dan internet tersambung, Google akan otomatis menyelaraskan (sync) semua perubahan yang dibuat saat offline ke dalam dokumen utama.
  • Manajemen Tugas: Dalam kondisi internet tidak stabil, bagi tugas kelompok menjadi bagian-bagian kecil. Siswa fokus mengerjakan bagiannya secara offline, dan mereka akan "bertemu" kembali di dokumen digital saat koneksi pulih.

3. Mengapa Ini Penting bagi Kurikulum Kita?

Dalam konsep Deep Learning, refleksi dan aplikasi ilmu tidak boleh terhambat oleh teknis. Dengan menguasai fitur offline, kita memberikan kepastian kepada murid bahwa hasil pemikiran mereka aman dan akan tersimpan.

Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan internet cepat, tapi soal bagaimana kita tetap produktif dalam keterbatasan. Mari kita pastikan bahwa di sekolah kita, sinyal boleh putus, tapi ide harus tetap jalan terus!

SMAN 2 Ogan Komering Ulu memiliki Komunitas Belajar dengan nama Komunitas Smanda Belajar (KSB). SMAN 2 Ogan Komering Ulu menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka level Berbagi. Dalam rangka berbagi maka KSB menggandeng komunitas dari sekolah sekitar untuk mengajakan kegiatan Bimtek Percepatan Pelaksanaan IKM. Kegiatan ini diikuti komunitas belajar dari SMAN 14 OKU, SMAN 15 OKU, SMAN 16 OKU, SMA Kurnia Jaya, SMKN 4 OKU dan SMK Dhurul Khuldi.

Melalui kegiatan ini saya turut berbagi praktik baik pembelajaran berbasis TIK yang saya lakukan. Selain itu saya juga membagikan bagaimana pemanfaatan PMM untuk menyelesaikan rekomendasi belajar rapor pendidikan sekolah. Melalui kegiatan ini rekan-rekan guru menjadi paham bagaimana pemanfaatan akun belajar.id dalam kaitannya dengan teknologi untuk menghadirkan pembelajaran di kelas. Hal baik dari kegiatan kolaborasi ini adalah akan dilakukan kegiatan rutin kolaborasi antar komunitas belajar dengan harapan dapat saling menginspirasi dan memotivasi antar sesama anggota komunitas belajar.















Konco Batik Nusantara merupakan webinar berseries kolaborasi antara Sahabat Teknologi dari beberapa provinsi. Konco Batik Nusantara merupakan akronim dari Kolaborasi Co-Kapten Berbagi Praktik Baik Se-nusantara 10 Co-Kapten belajar.id yang juga merupakan Sahabat Teknologi 2023 dengan Bapak Asep Yuyun Sahabat Teknologi dari Jakarta Barat sebagai ketua. Kegiatan webinar ini dilakukan dari tanggal 16 - 18 Oktober 2023. Pada Sesi 1 dilakukan tanggal 16 Oktober 2023 dengan narasumber bapak Asep Yuyun, Ibu Era Delvia Sari (Sahabat Teknologi Provinsi Jambi) dan Bapak Randy Oktari (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan). Kegiatan ini dibuka oleh PLT DIrektur SMP Kemendikbud Ristek Bapak drs. I Nyoman Rudi Kurniawas, M.T. Untuk sesi 2 dilaksanakan tanggal 17 Oktober 2023 dengan narasumber Bapak Dian Perdana Putra (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Ibu Lia Nurmala (Sahabat Teknologi Maluku Utara) dan bapak Beny Hidayar (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan).

Saya menjadi narasumber di sesi 3 bersama bapak Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Novia Ayu Lestari (Sahabat Teknologi Bengkulu), Fadhli Oni Raharjo (Sahabat Teknologi Bengkulu). Webinar ini dilakukan tanggal 18 Oktober 2023. Webinar ini diwarnai dengan kondisi mati lampu di rumah bapak Febri Sulih Pambudi dan pak Fadhil. Sehingga untuk share screen materi pemaparan dibantu oleh moderator ibu Lia Nurmala. Alhamdulilaah dengan komunikasi dan kolaborasi yang baik antara narasumber dan moderator kegiatan webinar ini berlangsung lancar.
Berikut rekaman Konco Batik Nusantara Seri 3.


Daftar hadir dan umpan balik


    

SMAN 2 Ogan Komering Ulu berada 30 Km dari pusat Kabupaten Ogan Komering Ulu. Memiliki penduduk dengan latar belakang petani karet. 50% siswa setiap hari membantu orang tua menyadap atau memulung getah karet, sehingga keseharian dekat dengan pengolahan karet. Kurikulum yang berlaku adalah kurikulum merdeka. Sehingga proses pembelajaran harus mengakomodir kodrat alam dan zaman siswa. Situasi lainnya yaitu setiap siswa memiliki gawai dan koneksi internet yang memadai. 



Pada mata pelajaran Kimia, motivasi siswa rendah, tetapi siswa suka sekali mengeksplore gawai. Baik itu bermain sosial media maupun game. Selain itu siswa menganggap kimia sulit dan materi metode ilmiah membosankan. Inilah yang memunculkan tantangan buat saya. Bagaimana meningkatkan motivasi siswa dan pembelajaran kimia menyenangkan?

Hal yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini adalah berselancar di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Mencari praktik baik rekan-rekan guru yang mempunyai kendala serupa. Selain itu saya juga mengikuti pelatihan mandiri yang ada di PMM untuk lebih memahami bagaimana kurikulum merdeka dan penerapannya di kelas. Setelah itu saya memutuskan menggunakan metode Projek Based Learning dengan pendekatan kontekstual menggunakan STEAM mengeksplore keseharian siswa mengolah getah karet, dengan pendekatan teknologi untuk sarana pmberian tugas, pengumpulan tugas (Classroom) dan format pelaporan (Canva) memanfaatkan akun belajar.id.

Awalnya saya memberikan apersepsi kepada siswa bagaimana cara untuk membuat getah karet cepat beku disaat musim hujan? Disini siswa memberikan banyak tips yang biasa mereka lakukan dari memberi larutan tawas, pupuk TSP, cuka, dan banyak tips lainnya. Pada prinsipnya mereka sudah memahami cara mengatasi permasalahan yang ada. Tetapi saat ditanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk getah karet membeku, siswa diam. Mereka tidak bisa memberika jawaban pasti. Setelah mengajukan pertanyaan pemantik saya mengajak siswa untuk membuat projek untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat getah karet membeku dengan adanya zat tambahan yang biasa mereka gunakan. Saya membagi siswa dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan membiarkan siswa mendesain projeknya sendiri. Menentukn waktu yang akan merek gunakan dan melaporkan petkembangan projeknya sehingga saya bisa memantau pekerjaan siswa. Setelah selesai semua, siswa membuat laporan projek dalam bentuk infografis yang dibuat dengan menggunakan canva for education yang diakses dengan akun belajar.id. Sebagai tempat pengumpulan tugas dan pemberian materi serta penguatan saya menggunakan Google Classroom.

Setelah melakukan proses pembelajaran Anak-anak termotivasi untuk mengerjakan projek karena merupakan kegiatan yang dekat dengan keseharian mereka. Sehingga terbentuk pola berfikir ilmiah dari peristiwa yang ditemui di lingkungan rumah (kontekstual). Menggunakan Projek Based Learning siswa terbiasa berfikir kritis dan berkolaborasi dalam kelompok berkembang sesuai harapan bahkan untuk beberapa siswa sangat pesat. Melalui pendekatan STEAM yang diterapkan siswa juga dapat menerapkan seni dalam tugas yaitu laporan projek dalam bentuk infografis/poster yang di desain dengan canva. Hal ini membuat siswa dekat dengan teknologi sehingga kodrat aman terpenuhi. Hingga akhirnya hasil belajar siswa juga meningkat.


Berikut Modul Ajar Profilatek


MODUL AJAR oleh Rani Nawang Sari

Berikut Testimoni dari siswa setelah mengikuti proses pembelajaran PROFILATEK


testi siswa oleh Rani Nawang Sari

Video narasi pengalaman pribadi dalam merancang dan mengimplementasikan model pembelajaran inovatif berbasis TIK yang berpusat pada murid dan bersifat kolaboratif dengan memanfaatkan Platform Teknologi. Juga memuat dokumentasi berbagi praktik baik implementasi inovasi pembelajaran yang dilakukan secara tatap maya dan atau tatap muka. 

“Menguatkan Ekosistem Digital Pendidikan dengan Berkarya dan Berbagi untuk Wujudkan Merdeka Belajar”.
#BLPTKemendikbudristek #MerdekaBelajar #PembaTIK2023 #SahabatTeknologiKemendikbudristek #PlatformMerdekaMengajar 


Webinar SMART-ID (Strategi Mendukung Adopsi Pembelajaran Berdiferensiasi ini dilaksanakan sesuai jadwal yaitu hari Selasa 17 Oktober 2023. Kegiatan ini dilakukan melalui Komunitas Belajar PMM "Sahabat PembaTIK". Pembicara pada webinar merupakan kolaborasi dari tiga Sahabat Teknologi yaitu Randy Oktari (Sahabat teknologi OKU Selatan), Rani Nawang Sari (Sahabat Teknologi OKU) dan Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi dari Musi Rawas Utara). Webinar ini dibuka oleh Kepala Balai Guru Penggerak Sumatra Selatan ibu Dra. Ohorella Erma, M.Ikom. Pada kesempetan ini beliau berpesan untuk menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi kepada anak agar bisa mengakomodir potensi yang berbeda-beda dari mereka.


Sebagai pembicara pertama Rani Nawang Sari dengan praktik baiknya PROFILATEK (Project Based Learning Lateks dengan Teknologi). Disini bu Rani memaparkan praktik baik yang dilakukan dengan melakukan metode Projek Based Learning pada pembelajaran Kimia dengan pendekatan kontekstual dan STEAM. Dimana tugas anak disampaikan melalui googel Classroom dan laporan projek dibuat dalam bentuk infografis/poster menggunakan canva for education yang memanfaatkan akun belajar.id. Selanjutnya Bapak Febri Sulih Pambudi mendapatkan giliran kedua menyampaikan praktik baik Pembelajaran Kimia Menarik dan Berdifferensiasi dengan TIK. Beliau membagikan praktik baik pembuatan microsite dengan menggunakan Google slide yang memanfaatkan akun belajar.id. Pada bagian akhir bapak Randy Oktari menyampaikan praktik baik yang berjudul BERBATIK MAPAN (Pembelajaran Bahasa INGGRIS berbasis TIK dengan MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF menyenangkan dan ramah jaringan).

Setelah sesi pemaparan praktik baik, dibuka sesi tanya jawab. Peserta terlihat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan. Antara lain pertanyaan dari Bapak Wisnu Nata bagaimana membuka file yang didownload melalui chromebook agar dapat dibuka dengan aplikasi Ms Word. Lalu Saya menjawab bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan karena Chromebook memiliki Google Docs yang sudah terintegrasi. Sedangkan Ms Word tidak terintegrasi dengan Chromebook. Sehingga bapak Wisnu Nata cukup membuka file dari chromebook dan membiasakan diri dengan google docs baik secara online maupun offline.

Berikut video berbagi praktik baik dalam Webinar SMART-ID



DOKUMENTASI KEGIATAN






DAFTAR HADIR KEGIATAN


Berbagi Praktik Baik TEACHING AT THE RIHGT LEVEL DENGAN ASSURE UNTUK SISWA INKLUSIF (TASI) : PEMANFAATAN AKUN BELAJAR.ID PADA KURIKULUM MERDEKA BAGI SISWA INKLUSIF dilakukan di webinar rutin Komunitas Smanda Belajar. Kegiatan ini diikuti oleh guru SMAN 2 Ogan Komering Ulu dan guru di lingkungan sekitar.



Sekolah merupakan sarana dimana siswa berkumpul untuk belajar dan memperoleh pendidikan termasuk siswa inklusif. Pendidikan inklusif memiliki tujuan untuk memastikan bahwa setiap siswa termasuk siswa inklusif mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Hal ini harus diakomodir dalam kurikulum sekolah. Implementasi Kurikulum Merdeka sudah dilaksanakan di SMAN 2 Ogan Komering Ulu. Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang berpusat pada siswa (student centered learning). Paradigma ini menekankan pada pengembangan kompetensi dan karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Dalam konteks kurikulum Merdeka, diperlukan pendekatan yang tepat agar semua kebutuhan siswa terakomodir. 

Saya mengajar kimia di kelas X. Kurikulum Merdeka mulai diterapkan pada kelas X. Ini merupakan tantangan tersendiri. Karena selain mata pelajaran Kimia kurang diminati, saya juga mendapatkan siswa inklusif. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023 siswa inklusif adalah peserta didik yang memiliki kelainan fisik, inteletual, sosial, emosional, dan/atau bahasa yang dapat mengalami hambatan dalam proses pembelajaran. Saya mendapatkan siswa inklusif bernama Galang dengan kesulitan belajar sehingga membutuhkan penyesuaian terhadap media dan tujuan pembelajaran. Saya harus menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodir kebutuhan semua siswa termasuk Galang. 

Teaching at the Right Level (TaRL) menurut Asaad dkk, 2024 merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan pemahaman yang terjadi di kelas. Pada kelas yang terdapat siswa inklusif kesenjangan ini menjadi suatu yang tidak terbantahkan. Tetapi hal ini harus tetap diakomodir agar kebutuhan siswa bisa terpenuhi. TaRL adalah pendekatan belajar berdasarkan kemampuan siswa bukan pada jenjang kelas. Hal ini sesuai untuk diterapkan pada siswa inklusif. Selain itu hal lainnya yang perlu perhatian untuk pembelajaran dengan siswa inklusif adalah pemilihan media pembelajaran yang tepat. Media pembelajaran harus bisa mengakomodir hambatan belajar yang dimiliki siswa. Sehingga siswa menjadi lebih mudah untuk mencapai tujuan belajarnya. Menurut Pradono (2021) pengembangan media pembelajaran menggunakan langkah ASSURE memberikan hasil yang baik bagi siswa inklusif. ASSURE merupakan desain instruksional dikembangkan oleh Robert Heinich, Michael Molenda dan James D. Russell. Desain ini mengintegrasikan teknologi dan multimedia dalam rangka meningkatkan lingkungan belajar dari sudut pandang konstruktivis (Maghdalena, dkk. 2023). Pada praktik baik ini, saya menggunakan Teaching at the right level dengan Assure untuk Siswa Inklusif (TASI) dengan memanfaatkan Akun belajar.id pada kurikulum Merdeka. 

Mengatasi tantangan yang ada saya mempelajari mengenai kurikulum merdeka dan siswa inklusif melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Saya login menggunakan akun belajar.id. Disana saya banyak mendapatkan informasi, inspirasi apa yang harus saya lakukan. Mengikuti pelatihan mandiri mengenai kurikulum merdeka dan pendidikan inklusif. Setelah berselancar di PMM, saya mendapatkan pemahaman bahwa kurikulum merdeka itu menggunakan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL). TaRL merupakan pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk memastikan bahwa siswa memahami dan menguasai konsep-konsep dasar sebelum melanjutkan ke tingkat konsep yang lebih rumit. Maka untuk itu saya harus melakukan asesmen awal untuk menngetahui kemampuan awal siswa termasuk siswa inklusif. Pada proses ini saya menggunakan google form untuk asesmen awal. Khusus untuk siswa inklusif saya menambahkan identifikasi dalam bentuk wawancara untuk mengetahui lebih dalam hambatan belajar yang dihadapi dan media ajar yang tepat. Selanjutnya membuat Program Pembelajaran Individual (PPI) bagi Galang. Dalam membuat PPI dan modul ajar saya harus memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didik, memilih media ajar yang tepat, menggunakan kosakata yang sesuai untuk Galang, menunjukkan informasi dalam cara yang sesuai dan memastikan semua peserta didik terlibat dan tertarik untuk belajar. Selain galang ada siswa lain yang juga harus saya perhatikan. Sehingga media yang saya buat harus mengakomodir seluruh kebutuhan siswa. Hal ini harus sesuai dengan prinsip desain universal untuk pembelajaran. ASSURE yang dilakukan terdiri dari enam tahapan yaitu 
1. Analyze (Menganalisis) Dalam tahap ini, saya melakukan analisis lebih lanjut terhadap data hasil tes dan mengidentifikasi pola kesulitan yang dialami siswa inklusif. Di tahap ini saya melakukan pemahaman mendalam tentang kebutuhan individual siswa sehingga memungkinkan untuk penyesuaikan pendekatan pengajaran secara efektif. 
2. State objectives (Merumuskan Tujuan) Merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik yang sesuai untuk siswa inklusif. Tujuan untuk siswa inklusif berbeda dengan siswa lainnya sesuai dengan hambatan belajar yang dialami. 
3. Select/modify/design materials (Mensintesis) Saya memilih/memodifikasi/merancang media dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Disini tingkat kemampuan, kebutuhan khusus dan minat siswa menjadi bahan pertimbangan utama dalam memilih media dan metode yang akan digunakan. Proses ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Hasil dari proses ini digunakan akun belajar.id dan manfaatkan GWfE. Dibuat Google Site, Canva untuk LKPD dan Kartu unsur, Google Form untuk asesmen, Youtube untuk video, dan Google Drive sebagai media penyimpanan, serta Jamboard sebagai media untuk refleksi. Metode pembelajaran digunakan Flipped Classroom. 
4. Utilize materials (Memanfaatkan) Menggunakan metode dan media pembelajaran yang sudah dirancang pada proses pembelajaran di kelas. Metode pembelajaran yang digunakan adalah Flipped Classroom dengan sintak 
  • Pembuatan Materi Pembelajaran: Guru membuat materi pembelajaran seperti video, presentasi, bahan bacaan, LKPD, Asesmen yang dapat diakses oleh siswa melalui Google Site. Lalu membagikan link Google Site pada grup kelas. Google Site klik disini
  • Pemahaman Awal di Rumah: Siswa mempelajari materi yang telah dibagi di rumah sebelum sesi kelas. 
  • Diskusi dan Pemahaman Mendalam di Kelas: Waktu di kelas digunakan untuk diskusi, menjawab pertanyaan, mengerjakan LKPD, dan kegiatan interaktif yang memperdalam pemahaman siswa tentang materi. 
  • Bimbingan Guru: Guru memberikan bimbingan, membantu siswa memahami konsep yang sulit, dan memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang diselesaikan siswa. 
5. Require learner response (Melibatkan Siswa) Pada tahap ini saya mendorong siswa inklusif untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Beberapa hal yang saya dilakukan untuk mendorong partisipasi siswa inklusif adalah: 
  •  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya 
  •  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat 
  •  Memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan siswa 
Sehingga pada tahapan ini siswa inklusif merasa sama dan diperlakukan tidak berbeda. Merasa diterima dan berarti bagi kelas. Disini indikator kualitas hidup siswa di sekolah yaitu to live (tumbuh berkembang sesuai dengan bakat dan potensi), to love (menerima pembelajaran yang membahagiakan) dan to play dan mendapatkan pendidikan dan pengembangan diri sesuai kodratnya) terpenuhi. 

6. Evaluate (Mengevaluasi) Hasil pembelajaran siswa dan siswa inklusif dievaluasi dengan teliti untuk menilai apakah tujuan pembelajaran tercapai. Peninjauan hasil evaluasi ini membantu saya mengevaluasi efektivitas metode pengajaran, media dan memperbaiki pendekatan mereka. 

Setelah melakukan praktik baik ini saya melakukan sosialisasi kepada rekan-rekan guru yang lain mengenai praktik baik yang saya lakukan. Agar rekan guru yang lain mengenetahui mengenai penanganan siswa inklusif dan proses pembelajaran di kelas. Hasil dari praktik baik yang saya lakukan pada siswa inklusif memberikan hasil yang memuaskan. Secara klasikal siswa mampu mencapai kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang ditentukan. Secara khusus untuk Galang siswa inklusif di kelas juga mencapai kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang dibuat khusus untuk Galang. Setelah melakukan proses pembelajaran ini, hasil belajar Galang berada pada posisi cakap untuk Kriteria Ketuntangan Tujuan Pembelajaran yang dibuat khusus untuk Galang. Dia sudah mempu menuliskn lambang unsur dua huruf dan membacanya. Nilai yang diperolehnya adalah 80 sehingga Galang tidak perlu dilakukan kegiatan pengulangan materi dan bisa lanjut ke tujuan pembelajaran berikutnya. Perubahan lainnya adalah Galang menjadi lebih bersemangat dan antusias terhadap pelajaran kimia. Galang menyukai media yang saya buat. Selain melalui google site, LKPD untuk Galangsaya cetak dan potong-potong menjadi kartu unsur untuk dipelajari pada bimbingan individu. Warna-warni pada kartu unsur yang saya buat menggunakan Canva menarik perhatian Galang. Keinginan untuk bertanya lebih tinggi dibanding pertemuan sebelumnya tanpa media kartu. Galang menjadi lebih fokus untuk melakukan proses pembelajaran. Disisi lain Galang merasa diperlakukan sama dengan rekan sekelasnya. LKPD dan Materi ajar di share pada google site yang sama. 

Hal ini senada dengan hasil penelitin dari Mihai, dkk, 2018 yang menyatakaan bahwa pengalaman disabilitas pada anak-anak berkebutuhan khusus adalah pengalaman yang pribadi dan unik bagi masing-masing anak. Anak-anak dengan berkebutuhan khusus cenderung menyesuaikan diri dengan cara yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka meskipun mengalami tantangan aksesibilitas dan kegagalan. Dengan kata lain, anak-anak ini menemukan cara untuk mengatasi hambatan dan memperbaiki kualitas hidup mereka meskipun adanya kendala dan keterbatasan. Setelah sesi sosialisasi dengan rekan di sekolah, hasilnya menunjukkan hasil yang baik. Beberapa rekan sebelumnya merasa kesulitan untuk menghadapi Galang. Setelah mengetahui apa yang saya lakukan rekan-rekan menjadi lebih memahami bagaimana proses pembelajarann yang seharusnya dilakukan untuk Galang. 

Pada proses pembelajaran saya fokus pada kebutuhan belajar, tingkat pemahaman dan apa tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan Galang sesuai dengan pendekatan (TaRL). Begitu juga saat memilih media yang tepat dengan desain intruksional ASSURE. Media yang dipilih juga disesuaikan dengan kodrat zaman sehingga mengintegrasikan teknologi. Pemanfaatan akun belajar.id dengan GWfE yaitu Google site, Youtube, Google Form, Jamboard, Google Drive, serta Canva for Education. Sehingga proses pembelajaran menjadi sesuai dengan kebutuhan Galang lengkap dengan kodrat alam dan zaman. Hingga akhirnya indikator hidup untuk Galang terpenuhi to love, to live, to play, to work. 

SUMBER LITERATUR 

As’ad, M. C., Sulistyarsi, A., & Sukirmawati, J. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar kognitif Siswa kelas X pada Materi Inovasi Teknologi Biologi SMA. EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies, 4(1), 76-85. DOI: 47467/eduinovasi.v4.i1.4366 

Magdalena, I., Nuraulia, D., & Kamilatun, N. A. (2023). Implementasi Model ASSURE dalam Pengembangan Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Negeri Sukasari 5 Kota Tangerang. Jurnal Pendidikan: SEROJA, 1(1) 

Mihai, S. I., Mane, K. H., & Kachhap, S. (2018). Disability & Quality of Life of Children with Special Needs: An Interpretative Phenomenological Analysis. European Journal of Special Education Research, 3(4). Pradono, T. G. (2021). Pengembangan Media Lembar Kerja IPA untuk Pembelajaran Daring Siswa Inklusi Melalui Langkah ASSURE di SMPN 3 Probolinggo. Jurnal Ilmiah Pro Guru, 7(4), 384.

Dokumentsi berbagi di Komunitas Smanda Belajar


Daftar Hadir Kegiatan Berbagi
Powered by Blogger.